Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 27 Maret 2011

Pendengaran Kita


Pendengaran dan Alat Bantu Dengar

Pendengaran yang baik merupakan salah satu kebutuhan hidup yang sangat penting bagi kita. Jika  kita mengalami gangguan pendengaranmaka hal itu akan sangat berdampak buruk dalam kehidupan  sehari-hari.
 
Berdasarkan data statistik, diperkirakan 1 dari 10 orang mengalami gangguan pendengaran dan 1 dari 3 orang berusia tua (diatas 60 tahun) juga mengalami gangguan pendengaran. Dan para ahli mengatakan angka kejadian gangguan pendengaran semakin meningkat saat ini
 
Kualitas hidup adalah hal penting yang sangat dikompromikan bagi orang yang mengalami gangguan pendengaran dan keluarganya. Gangguan pendengaran dapat dikatakan memiliki kategori berat, dimana suara yang cukup keras tidak dapat terdengar atau yang biasanya terjadi orang tersebut sangat sulit mengerti kata-kata yang diucapkan. Dalam kasus-kasus tersebut beberapa jenis suara atau percakapan sulit untuk didengar, terutama di lingkungan suara yang bising
 
Saat ini sudah tersedia teknik penanganan gangguan pendengaran yang baru dan lebih baik. Penanganan gangguan pendengaran yang efektif telah terbukti menghasilkan efek positif terhadap kualitas hidup.
 
Belajar untuk mengetahui gangguan pendengaran, penyebab-penyebabnya, gejala dan yang paling penting apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi gangguan pendengaran tersebut, dimulai dari pemahaman dasar mengenai bagaimana proses terjadinya suara, organ pendengaran kita (telinga) dan bagaimana proses kita dapat mendengar suara tersebut
 
 
 
Bagaimana kita Mendengar ?
 
 
 
Telinga Bagian Luar
 
Pertama-tama suara masuk ke telinga melalui daun telinga. Kemudian oleh daun telinga gelombang suara tersebut dikumpulkan dan diarahkan ke lubang telinga untuk selanjutnya menyentuh gendang telinga. Daun telinga dan lubang telinga merupakan telinga bagian luar.
 
 
 
 
Telinga Bagian Tengah
 
Telinga bagian tengah dimulai dari gendang telinga. Ketika gelombang suara dari telinga bagian luar bergerak menyentuh gendang telinga, maka gengdang telinga pun bergetar seperti gendang. Dibelakang gendang telinga ada ruang yg berisi udara dan terdapat 3 tulang telinga bagian tengah (tulang terkecil dalam tubuh manusia). Getaran yang terjadi pada gendang telinga kemudian juga menyebabkan tulang-tulang tersebut  ikut bergetar.
 
 

Gangguan pendengaran tipe konduktif
 
Gangguan pendengaran konduktif terjadi ketika hantaran suara melalui telinga luar dan/telinga tengah mengalami gangguan yang diantaranya disebabkan oleh :
  1. Adanya serumen/kotoran telinga
  2. Gendang telinga yang mengalami perforasi (bolong) akibat penggunaan cotton bud atau benda lainnya
  3. Infeksi telinga tengah yang menimbulkan ada cairan
  4. Diperkirakan 10 % dari kasus gangguan pendengaran yang terjadi merupakan gangguan pendengaran tipe Konduktif
  5. Dimana biasanya dapat mengakibatkan penurunan pendengaran derajat ringan sampai dengan sedang
  6. Gangguan pendengaran tipe konduktif seringkali dapat ditangani secara medis, bahkan banyak ditemukan pendengaran dapat kembali normal
 
 
 
 

 
Telinga Bagian Dalam
 
Rumah siput /koklea(merupakan organ pendengaran dan keseimbangan) dan saraf pendengaran termasuk telinga bagian dalam.
 
Suara/bunyi dapat sampai ke telinga bagian dalam melalui getaran yang terjadi pada tulang-tulang telinga tengah yang terhubung dengan rumah siput .
 
Kemudian sel rambut (yang berfungsi sbg sensor elektron mikroskopik) yang terdapat di dalam rumah siput merubah energi getar menjadi energi listrik-kimia (energi listrik yg terjadi karena adanya reaksi kimia) yang kemudian diteruskan oleh syaraf pendengaran ke otak, dimana akhirnya suara terseb didengar dan diterima.
 
 
 
 
 
 
 
Gangguan Pendengaran Tipe Sensori Neural
 
Gangguan pendengaran yang timbul akibat adanya masalah pada telinga bagian dalam disebut sebagai gangguan pendengaran tipe sensori neural / tuli syaraf. Diperkirakan 90 % dari total kasus gangguan pendengaran yang terjadi merupakan kasus sensori neural.
 
Kasus ini paling sering terjadi akibat rusaknya sel-sel rambut bagian dalam. Dimana jika sel-sel rambut bagian dalam sudah rusak, sejauh ini ia tidak dapat memperbaiki sendiri ataupun dengan penangan medis
 
Penyebab yang sering ditemukan pada gangguan pendengaran tipe sensori neural :
  1. Faktor genetik
  2. Sering terpapar bising
  3. Presbikusis (gangguan pendengaran yang terjadi karena menurunnya fungsi telinga bagian dalam seiring bertambahnya usia)
 
 
 
Penyebab lainnya dapat berupa :
  1. Konsumsi obat-obat yang berbahaya bagi telinga
  2. Tumor yang terjadi pada syaraf pendengaran
  3. Infeksi yang terjadi secara kongenital maupun dapatan seperti meningitis, mumps, dan sebagainya.
  4. Penyakit ginjal
  5. Penyakit saluran pernafasan
 
Dan Pada sebagian besar kasus, penyebabnya masih belum diketahui atau idiopatik.
 
Gangguan pendengaran tipe sensorineural dapat menyebabkan kehilangan pendengaran dengan derajat ringan sampai dengan profound
 
Lebih dari 95 % kasus gangguan pendengaran sensori neural dapat dibantu dengan menggunakan Alat Bantu Dengar dan Cochlear Implant
 
 
 
 
 

Gangguan Pendengaran Tipe Campur
 
Gelombang suara dapat menemui hambatan disepanjang jalur pendengaran. Ketika gangguan pendengaran yang terjadi disebabkan adanya masalah pada telinga bagian luar/tengah dan telinga bagian dalam sekaligus maka disebut gangguan pendengaran tipe campur. Misalnya gangguan pendengaran tipe campur dapat terjadi pada seseorang yang sel-sel rambut bagian dalamnya mengalami kerusakan karena bertambahnya usia dan pada saat bersamaan orang tersebut juga mengalami infeksi pada telinga tengah akibat dari infeksi saluran pernafasan bagian atas.
 
 
 
Gejala – gejala gangguan pendengaran
 
 
 
 
Gejala-gejala gangguan pendengaran tipe konduktif
 
Pada kasus gangguan pendengaran tipe konduktif, volume suara yang didengar berkurang. Gejala-gejala gangguan pendengaran tipe konduktif adalah sebagai berikut :
 
1. Suka menaikan volume (diatas volume rata-rata orag dengan pendengaran normal) pada saat menonton TV ataupun
 
 
    mendengarkan radio
2. Meminta lawan bicara untuk mengulang percakapan
3. Merasa mendengar lebih baik di salah satu telinga
4. Sulit mendengar percakapan melalui telepon
 

Pada kasus gangguan pendengaran tipe konduktif, ketika volume suara dinaikkan pada tingkat yang dibutuhkan, biasanya suara (percakapan) akan langsung terdengar lebih jelas dan sekaligus dapat dipahami.
 
Jadi jika seseorang yang mengalami gangguan pendengaran tipe konduktif sedang menonton TV kemudian ia menaikan volume TV tersebut maka pada umumnya orang tersebut dapat mendengar secara jelas.
 
Tergantung dari penyebabnya, gejala gangguan pendengaran konduktif juga dapat terjadi seperti :

1. Merasakan sakit pada telinga

2. Keluar cairan dari telinga
3. Telinga merasa tersumbat
 
 
 
Gejala-gejala gangguan pendengaran tipe konduktif
 
Pada kasus gangguan pendengaran tipe sensori neural, volume suara yang didengar juga berkurang dan hal tersebut menyebabkan bunyi maupun suara percakapan tidak dapat ditangkap dengan jelas.
 
Orang yang mengalami ganggian pendengaran tipe sensori neural kadang-kadang suka mengatakan bahwasanya mereka dapat mendengar orang berbicara tapi tidak dapat memahami seluruh kata-kata yang didengar . Kurang nyaman mendengar suara musik
 
Gejala-gejalanya :
 
1. Suka menaikan volume (diatas volume rata-rata orag dengan pendengaran normal) pada saat menonton TV ataupun 
 
    mendengarkan radio
 
2. Meminta lawan bicara untuk mengulang percakapan
 
3. Menganggap orang lain berbicara tidak jelas atau bergumam
 
4. Tidak jelas mendengar suara percakapan
 
5. Sulit mendengar ditempat bising
 
Syukurnya, saat ini banyak teknik penanganan gangguan pendengaran yang baru dan lebih efektif disbanding sebelumnya, untuk membantu orang yang mengalami gangguan pendengaran untuk mendengar lebih baik sehingga lebih produktif dalam mengisi kehidupan

 
Tinitus, dikenal sebagai bunyi mendenging yang berasal dari dalam telinga, seringkali terkait dengan adanya gangguan pendengaran. Tinnitus juga didefinisikan sebagai bunyi denging ataupun bunyi bising lainnya yang terdengar dari dalam telinga ataupun kepala pada saat tidak ada suara dari luar. Tinitus dianggap bukan merupakan penyakit, namun sebuah gejala yang melatarbelakangi kondisi-kondisi yang terjadi pada telinga, syarafpendengaran ataupun pada lokasi lainnya. Tinitus dapat dikategorikan ringan atau berat, jarang atau kronis. Penanganan suatu gangguan pendengaran,apakah itu dengan tindakan medis ataupun dengan pemakaian alat bantu dengar dapat mengurangi tinnitus.
Saat ini Penanganan tinnitus yang baru dan efektif juga telah tersedia. Oleh karena itu sebuah pemeriksaan pendengaran yang menyeluruh adalah suatu langkah pertama yang penting dilakukan untuk menilai tingkat permasalahan dan penanganan tinitus

 
 
Bagaimana Mengatasinya ?
 
Beberapa cara penanganan gangguan pendengaran
Pada banyak kasus, gangguan pendengaran tipe konduktif ditangani secara medis (penggunaan obat-obatan ataupun operasi), dan biasanya pendengaran akan kembali normal jika penyebabnya sudah dapat tertangani dengan baik.
Namun ketika pendekatan medis tidak diperlukan (bukan hal yang tepat) atau tidak efektif, maka penggunaan alat bantu dengar atau berbagai jenis instrumen pengamplifikasian suara (seperti : Bone conduction Implant) secara tepat juga dapat membantu orang yang mengalamigangguan pendengaran tipe konduktif untuk dapat mendengar lebih baik.
 
Gangguan pendengaran sensori neural paling sering disebabkan oleh karena terjadinya kerusakan sel-sel rambut pada telinga bagian dalam.
Gangguan pendengaran sensorineural biasanya bersifat permanen, ketika sel-sel rambut telinga bagian dalam rusak, maka ia tidak dapat memperbaiki kerusakan dengan sendirinya dan juga tidak dapat ditangani secara medis
Pada beberapa kasus, faktor kondisi medis seperti : tumor atau vascular condition, dapat diidentifikasi sebagai penyebab atau berkontribusi terhadap timbulnya gangguan pendengaran sensorineural. Pada kasus ini, penanganan (secara medis) terhadap penyebab masalah dapat dilakukan, tapi biasanya tidak akan mengembalikan pendengaran menjadi normal kembali.
Ketika penanganan secara medis kontraindikasi (tidak dianjurkan untuk dilakukan) atau tidak dapat mengembalikan pendengaran kembali normal, maka alat bantu dengar dan cochlear implant dapat digunakan untuk membantu orang dengan gangguan pendengaran senbsorineural agar dapat mendengar lebih baik.
 
Faktanya, pada lebih dari 95 % dari seluruh kasus gangguan pendengaran sensorineural, sangat dianjurkan untuk menggunakan alat bantu dengar dan cochlear implant sebagai metode penanganan yang efektif
 
Diagnosis awal-melalui suatu pemeriksaan (evaluasi) pendengaran yang menyeluruh-penanganan yang tepat sesegera mungkin terhadap gangguan pendengaran, merupakan langkah penting dan akan membuahkan hasil yang terbaik untuk mendapat kualitas mendengar yang lebih baik yang juga meningkatkan kualitas hidup.
 
 
 
 
 
 
 
Mencari bantuan kepada para professional kesehatan pendengaran
Diagnosa dan penananganan suatu gangguan pendengaran dimulai dengan pemeriksaan (evaluasi) pendengaran secara menyeluruh untuk mengetahui kondisi pendengaran dimasing-masing telinga.
 
Biasanya langkah pertama yang harus dilakukan untuk melakukan pemeriksaan pendengaran dan menangani gangguan pendengaran tersebut adalah berkunjung kepada professional yang ahli dalam masalah pemeriksaan pendengaran dan pemasangan alat bantu dengar ataupun cochlear implant
Para professional tersebut antara lain :
 
 
 
1.       Audiologist
Audiologist adalah orang yang memiliki gelar master atau doktor dalam hal mendiagnosa dan merehabilitasi gangguan pendengaran. Sebagian audiologist memilki spesialisasi pada instrumen pendengaran (alat bantu dengar, Assistive litening devices,dsb) dan sebagian lainnya memiliki spesialisasi pada cochlear implant,tinnitus,audiologi anak (pediatric audiology),pendidikan audiologi,konservasi pendengaran, keseimbangan dan pusing (dizziness)?,ataupun area lain yang terkait dengan audiologi. Dan beberapa audiologist  juga memiliki spesialisasi pada beberapa area keahlian sekaligus. Terkait dengan tugasnya menangani gangguan pendengaran melalui metode amplifikasi suara, audiologist juga mengidentifikasi dan merujuk beberapa kondisi yang membutuhkan penanganan dari otolaryngologistatau dokter spesialis THT (ear nose and throat physician). Dokter THT juga sering menggunakan hasil pemeriksaan audiologi (pendengaran) untuk membantu mereka dalam melakukan diagnosa dan penanganan terhadap berbagai masalah telinga.
 
 
 
 
2.       Hearing Instrument Specialist/Hearing aid Specialist/Hearing aid consultant
Spesialis alat bantu dengar adalah orang yang dilatih untuk melakukan pemeriksaan pendengaran dan memasang (menjual) alat bantu dengar. Di Negara maju para spesialis alat bantu dengar harus memiliki izin dan juga sertifikasi untuk menjual alat bantu dengar. Mereka juga dilatih untuk merujuk klien ke dokter THT untuk masalah telinga yang dapat ditangani secara medis.
 
Gangguan pendengaran biasanya terjadi secara bertahap, dan kadang-kadang teman dan keluargalah yang pertama kali menyadari adanya masalah gangguan pendengaran.Oleh karena itu biasanya direkomendasikan untuk membawa orang terdekat pada saat klien melakukan pemeriksaan, agar pemeriksa dapat memperoleh informasi yang cukup mengenai gejala dan akibat gangguan pendengaran pada klien serta berguna sebagai bentuk dukungan yang berarti untuk klien pada awal proses penanganan gangguan pendengaran
 
 
 
 
Pemeriksaan (evaluasi) Pendengaran Menyeluruh
Pemeriksaan pendengaran secara menyeluruh tidak menyebabkan rasa sakit, bersifat non invasive, cepat dengan biaya relatif tidak mahal, biasanya membutuhkan waktu 30-45 menit untuk kebanyakan klien dewasa.
Tahapan evaluasi pendengaran secara menyeluruh adalah sebagai berikut :
 
1.       Menggali informasi mengenai riwayat gangguan pendengaran
 
 
Sebelum memulai eavaluasi pendengaran, pemeriksa harus menanyakan beberapa pertanyaan terkait dengan kesehatan secara umum serta informasi yang spesifik terkait dengan gejala-gejala gangguan pendengaran dan/atau hal-hal yang berhubungan masalah telinga lainnya.
 
Informasi ini akan digunakan bersama-sama dengan hasil pemeriksaan pendengaran untuk mendiagnosa dan menentukan strategi penanganan terhadap masalah gangguan pendengaran yang peling efekti dan tepat
 
 
2.       Pemeriksaan (inspeksi) Otoskopi
Langkah berikutnya adalah :
 
melakukan pemeriksaan secara visual pada saluran telinga dan gendang telinga dengan menggunakan alat otoskop untuk mengetahui apakah ada sumbatan ataupun masalah (kondisi tidak normal) yang terjadi pada telinga bagian luar yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan pendengaran.
 
Masalah-masalah yang ditemukan seperti ; adanya kotoran telinga yang menutupi sebagian/seluruh saluran telinga, gendang telinga yang tidak utuh (mengalami perforasi/bolong) harus dicatat dan jika diperlukan lakukan rujukan medis ke dokter THT.
 
 
3.       Pemeriksaan Audiometri
Langkah berikutnya adalah :
 
Kondisi pendengaran klien diperiksa dengan menggunakan alat yang disebut audiometer pada ruangan atau pun chamber  yang memenuhi standar kekedapan suara untuk melakukan pemeriksaan audiometri.
 
Pada pemeriksaan ini telinga klien akan diberikan stimulus bunyi (nada murni) / suara percakapan dengan tingkat intensitas (kekerasan) suara dan frekuensi (nada) yang berbeda melalui earphone. Stimulus bunyi nada yang diberikan pada pemeriksaan audiometri  adalah nada-nada (frekuensi) yang paling penting untuk dapat memahami percakapan.
 
 
Kemudian klien diminta untuk memberikan respon (apakah klien mendengar stimulus bunyi nada murni) dengan cara mengangkat tangan ataupun menekan tombol yang disediakan, ataupun jika stimulus yang diberikan adalah sinyal suara percakapan maka klien diminta untuk mengulangi sinyal suara percakapan apa yang telah dia dengarkan.
 
 
Tingkat intensitas (kekerasan) suara yang terendah ( setidaknya dari 4 stimulus bunyi/suara yang diberikan, klien merespon sebanyak 2 kali) disebut sebagai ambang dengar klien tersebut. Kemudian setiap ambang dengar pada setiap frekuensi yang diperiksa harus dicatat pada lembar khusus yang disebut sebagai audiogram.
 
 
4.       Pemeriksaan Pendengaran Lainnya
 
 
Tergantung pada kebutuhan, pemeriksaan lebih lanjut/lainnya bisa jadi diperlukan seperti ;

A. Tes weber
B.  Tes Rinne
C. Tes Bing
D. Tes WDS (word discrimination score) untuk mengetahui kemampuan klien memahami kata-kata ataupun kalimat  pada intensitas suara yang berbeda
E.  Tympanometri (untuk menilai kondisi telinga tengah)
F.  Tes Refleks Akustik (untuk menilai kondisi telinga tengah)
G. Tes Fungsi Tuba (untuk menilai kondisi telinga tengah)
H. Tes OAE (untuk menilai kondisi telinga bagian dalam/rumah siput)
I.  Tes ABR (untuk menilai kondisi jalur pendengaran sampai ke otak)
J.  Tes ASSR (untuk menilai kondisi jalur pendengaran sampai ke otak sekaligus memberikan informasi perkiraan ambang dengar pada frekuensi spesifik)
 
 
 
Diagnosa dan Evaluasi Hasil Pemeriksaan Pendengaran
 
 
 
Hasi Pemeriksaan Audiometri (Audiogram ) Klien
Hasil pemeriksaan audiometri klien disebut audiogram. Audiogram adalah grafik ambang dengar klien pada berbagai frekuensi pada masing-masing telinga
Tingkat kekerasan bunyi/suara yang diberikan kepada klien diukur dalam satuan decibel (desibel) Hearing Level disingkat dB HL, dapat terlihat pada sumbu vertikal lembar audiogram mulai dari -10 dB HL (bunyi/suara yang sangat pelan) sampai dengan 120 dB HL (bunyi/suara yang sangat keras)
Frekuensi suara atau nada bunyi yang diberikan pada klien diukur dalam satuan Hertz dan disingkat Hz, dapat terlihat pada sumbu horizontal lembat audiogram mulai dari frekuensi 125 Hz (Frekuensi nada/bunyi yang sangat rendah) sampai dengan 8000 Hz (Frekuensi nada/bunyi yang sangat tinggi)
Pada saat melakukan tes audiometri menggunakan earphone (untuk tes audiometri hantaran udara), ambang dengar hantaran udara telinga kanan di tulis dengan lambang  (untuk tes audiometri hantaran udara tanpa “masking”) atau        (untuk tes hantaran udara dengan “masking”)
Ambang dengar hantaran udara telinga kiri di tulis dengan lambang X (untuk tes audiometri hantaran udara tanpa “masking”)  atau        (untuk tes audiometri hantaran udara dengan “masking”)                        
Hasil tes ambang dengar  hantaran udara (air conduction test) berfungsi untuk menentukan kategori derajat penurunan pendengaran.
Pada contoh audiogram diatas, ambang dengar telinga kanan dan kiri masih termasuk dalam kategori range pendengaran normal (-10 dB HL s/d 25 dB HL)
Sedangkan tes audiometri hantaran tulang (bone conduction test) berfungsi untuk menentukan apakah jenis gangguan pendengaran yang terjadi konduktif, sensorineural atau campur ?
Tes audiometri hantaran tulang dilakukan dengan menggunakan headband yang diletakkan pada kepala dan bagian yang bergetar /dapat mengeluarkan getaran suara /bunyi (oscillator) diletakan di tulang mastoid di belakang telinga.
Hasil tes ambang dengar hantaran tulang telinga kanan ditulis dengan lambang (tanpa “masking”) dan [  (dengan “masking”), sedangkan ambang dengar hantaran tulang telinga kiri (tanpa “masking”) dan ] (dengan “masking”)
 
 
 
 
Derajat Gangguan Pendengaran
Pendengaran dan gangguan pendengaran dapat dinilai berdasarkan ambang dengar tes audiometri. Beberapa lembaga yang diakui, mengeluarkan standar untuk menilai derajat gangguan pendengaran misalnya International Standardization Organization (ISO) dan American Speech, Language and Hearing association (ASHA) dapat dilihat di www.asha.org
 
Gangguan Pendengaran Derajat Ringan
Range ambang dengar hantaran udara berkisar 26 dB HL s/d 40 dB HL. Orang dengan gangguan pendengaran derajat ringan biasanya mengalami kesulitan mendengar dan memahami bunyi dan suara percakapan yang pelan.
Penggunaan alat bantu dengar sangat dianjurkan ketika gangguan pendengaran derajat ringan juga tidak bisa ditangani secara medis. Saat ini telah tersedia berbagai pilihan model alat bantu dengar mulai dari model dibelakang telinga sampai model didalam telinga (hampir tidak terlihat ketika dipakai). Bahkan saat ini hadir model alat bantu dengar baru dengan system “open ear” yang cocok untuk digunakan pada kasus gangguan pendengaran ringan dan sedang pada frekuensi –frekuensi tinggi ( > frekuensi 1000 Hz)
  
 
Gangguan Pendengaran Derajat Sedang
Range ambang dengar hantaran udara berkisar 41 dB HL s/d 70 dB HL. Orang yang mengalami kasus gangguan pendengaran derajat sedang biasanya sulit mengikuti percakapan khususnya pada lingkungan suara yang bising.
Orang dengan gangguan pendengaran sedang seringkali menganggap lawan bicaranya berbicara tidak jelas atau seperti bergumam, hal itu disebabkan karena kondisi gangguan pendengaran mereka membuat mereka tidak dapat mendengar suara percakapan normal dengan jelas.
 
Bahkan pada lingkungan suara yang cukup tenang sekalipun, orang yang mengalami gangguan pendengaran derajat sedang, merasa kesulitan untuk mendengarkan :
·  suara percakapan pada saat mendengarkan pembicaraan dalam kelompok (lebih dari 1 orang lawan bicara)
·  suara dari belakang
·  suara yang pelan
Dan biasanya mereka sering membaca gerak bibir ataupun ekspresi wajah lawan bicaranya untuk dapat menebak maksud suara percakapan yang tidak dapat mereka dengar, walaupun begitu mereka tetap merasa tidak memiliki masalah pendengaran.
Penggunaan alat bantu dengar juga sangat direkomendasikan jika gangguan pendengaran derajat sedang juga tidak dapat ditangani secara medis. Tersedia berbagai pilihan model alat bantu dengar yang cocok untuk kasus ini
 
Gangguan Pendengaran Derajat Berat
Range ambang dengar hantaran udara berkisar 71 dB HL s/d 90 dB HL. Orang dengan gangguan pendengaran derajat berat tidak dapat mendengarkan suara yang pelan maupun sedang, suara kicau burung ataupun suara percakapan normal. Mereka meminta lawan bicara untuk berbicara dengan suara yang sangat keras agar mereka dapat mendengar percakapan dan hal yang cukup dilematis, pada saat volume suara dikeraskan suara/kata-kata menjadi terdengar tidak jelas (distorsi)
 
Gangguan Pendengarn Derajat Sangat Berat
Ambang dengar hantaran udara > 90 dB HL. Orang dengan gangguan pendengaran derajat sangat berat juga sering disebut dengan “tuli”. Biasanya mereka hanya dapat mendengar bunyi yang sangat keras seperti (suara petir, bantingan pintu, mesin pesawat,dsb)
Pada hampir disemua kasus gangguan pendengaran derajat berat dan sangat berat, pengguanaan alat bantu dengar ataupun cochlear implant sangat dianjurkan untuk membantu mereka agar dapat mendengar lebih baik

 
 
 
 
 
Jenis Gangguan Pendengaran
Jenis gangguan pendengaran-apakah itu konduktif, sensorineural ataupun campur dapat diketahui dengan cara membandingkan ambang dengar hantaran udara dengan ambang dengar hantaran tulang
Gangguan pendengaran disebut berjenis sensorineural jika pada audiogram ditemukan nilai ambang dengar hantaran udara dan hantaran tulang sama atau hampir sama dan keduanya berada diluar range pendengaran normal  ( > 25 dB HL)
Gambar.
Gangguan pendengaran disebut berjenis konduktif jika pada audiogram ditemukan nilai ambang dengar hantaran tulang berada didalam range pendengaran normal  sedangkan nilai ambang dengar hantaran udara berada diluar range pendengaran normal .
Gambar.
Gangguan pendengaran disebut berjenis campur jika pada audiogram ditemukan nilai ambang dengar hantaran tulang dan nilai ambang dengar hantaran udara berada diluar range pendengaran normal, dimana nilai ambang dengar hantaran udara jauh lebih rendah (jelek) dibandingkan nilai ambang dengar hantaran tulang.
Gambar.
 
 
 
“ Saya bisa mendengar, tapi tidak paham apa maksudnya”
Ucapan diatas biasanya merupakan salah satu gejala paling umum yang menandakan seseorang kemungkinan besar mengalami gangguan pendengaran.
Tapi kenapa itu bisa terjadi ? hal itu disebabkan karena pada banyak kasus gangguan pendengaran ditemukan derajat penurunan pendengaran pada frekuensi tinggi lebih lebih besar (jelek) dibandingkan derajat gangguan pendengaran frekuensi rendah.
Gambar.
Hal itu menyebabkan orang yang mengalami gangguan pendengaran (seperti contoh diatas) hanya mampu mendengar huruf-huruf vokal, sedangkan huruf-huruf konsonan yang sebagian besar berada diarea frekuensi tinggi tidak dapat terdengar dengan jelas.
Gambar.
Padahal huruf-huruf konsonan merupakan informasi penting yang diperlukan untuk memahami suatu percakapan. Hal berikut bias dijadikan contoh : bayangkan anda membaca cerita dari sebuah buku/majalah dan tiba-tiba seseorang menghilangkan hamper semua huruf-huruf konsonan dalam rangkaian kalimat pada isi cerita tersebut. Anda tentu dapat melihat kertas dari buku/majalah tersebut tidak dapat membaca dan memahami isi cerita dengan jelas. Hal yang mirip terjadi pada orang dengan gangguan pendengaran, mereka mendengar suara percakapan namun tidak mengerti dengan jelas maksud dari percakapan tersebut
 
 
 
 
Berikan Rekomendasi Kepada Keluarga/kerabat Anda
Sarankan keluarga/kerabat anda untuk melakukan pemeriksaan pendengaran menyeluruh, tergantung hasil pemeriksaan pendengaran , kemudian berikan rekomendasi-rekomendasi, bisa berupa ;melakukan pemeriksaan lebih lanjut, memberikan rujukan medis (ke dokter THT), dan / atau penanganan (pemasangan alat bantu dengar)
Pada banyak kasus gangguan pendengaran (termasuk 95% dari seluruh kasus gangguan pendengaran sensorineural), penggunaan alat bantu dengar atau cochlear implant dapat dijadikan pilihan bentuk penanganan gangguan pendengaran.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Gangguan Pendengaran dan Kualitas Hidup
Sebuah studi yang dikeluarkan oleh National Council on Agin (NCOA) pada tahi 1999 menemukan bahwasannya gangguan pendengaran yang tidak ditangani secara tepat berhubungan erat dengan tingkat kualitas hidup dalam beberapa hal.
Hal-hal tersebut seperti ; kesedihan,kecemasan,depresi,merasa tidak aman adalah hal-hal yang dapat berakibat negatif dalam kehidupan seseorang. Tidak mengejutkan, akibat negatif dari gangguan pendengaran tidak hanya berdampak buruk bagi orang yang mengalaminya namun juga berdampak bagi keluarga mereka.
Hasi temuan studi tersebut juga sejalan dengan hasi studi kecil lainnya yang mengaitkan gangguan pendengaran yang tidak ditangani secara tepat dengan berkurangnya aktivitas sosial, rasa kurang berarti, menurunnya kepercayaan diri, dan efek negatif lainnya
 
 
 
 
Pendengaran Yang Lebih Baik Adalah Hidup Yang Lebih Baik
Studi dari NCOA juga menemukan manfaat dari kondisi gangguan pendengaran yang ditangani dengan tepat. Dan untungnya, pada penanganan gangguan pendengaran yang tepat di temukan fakta orang yang mengalami gangguan pendengaran tersebut mendapatkan peningkatan yang sangat positif dalam kualitas hidup mereka. Berikut hasil studi tersebut :
 
 
 
Improvement % All Users % All Family
 
Relationships at home 56 55
 
Feelings about myself 50 60
 
Life Overall 48 62
 
Mental Health 36 39
 
Self-confidence 39 46
 
Relationships w/ children, grandchildren 40 52
 
Willing to participate in grop activities 34 44
 
Sense of safety 34 37
 
Ability to play card/board games 31 47
 
Social life 34 41
 
Physical health 21 24
 
Dependence on others 22 31
 
Relationships at work 26 43
 
Ability to play sports 7 10
 
Sex life 8 n/a
 
Table 1. Percentage of users and family members reporting improvements from using hearing aids.
 
(Table adapted from Kochkin & Rogin, 2000).
 
 
 
 
 
Studi dari NCOA juga menemukan konfirmasi mengenai apa yang telah diketahui oleh para professional yang menangani masalah pendengaran semenjak beberapa dekade dan   pengalaman dari orang yang gangguan pendengarannya ditangani dengan baik.
Sederhananya, penanganan gangguan dengar secara tepat lebih dari sekedar pendengaran yang lebih baik. Artinya jika kualitas hidup si orang yang mengalami gangguan pendengaran tadi meningkat maka begitu juga dengan keluarga dan teman-teman dekatnya.
Hasil studi perbandingan dan kesimpulannya masih relevan sampai saat ini.
Kabar Baik : Sebuah survey (marketrak 2005) terhadap lebih dari 1500 orang yang menggunakan Alat Bantu Dengar ditemukan fakta 90% dari mereka merasa puas dengan manfaat dari alat bantu dengar yang baru, dan lebih dari 90% merasa puas dengan pelayanan yang diberikan oleh sentra alat bantu dengar tempat mereka membeli.
 

 
 
Alat Bantu Dengar
Saat ini, alat bantu dengar tampil dengan ukuran yang lebih kecil, lebih nyaman, dan lebih efektif dari sebelumnya. Hampir seluruh alat bantu dengar saat ini merupakan komputer mikro yang dapat menyesuaikan secara otomatis untuk menjadikan suara dapat terdengar dengan nyaman.
Alat bantu dengar saat ini juga dapat memiliki fitur-fitur canggih yang dapat digunakan dengan mudah bahkan menyenangkan. Bahkan alat bantu dengar dengan teknologi basic pun saat ini sudah satu langkah lebih maju dibandingkan dengan alat bantu dengar yang tergolong ber teknologiadvance beberapa tahun lalu.
Biasanya ada beberapa pilihan jenis model dan teknologi bagi setiap klien. Alat bantu dengar mana yang terbaik bagi klien ? jawabannya adalah tergantung pada:
·   Hasil audiogram/pemeriksaan pendengaran
·   Kualitas pendengaran yang diharapkan oleh klien
·   Model yang diinginkan klien
·   Pengalaman menggunakan alat bantu dengar dengar sebelumnya (jika pernah menggunakan ABD)
·  Jenis teknologi pemrrosesan suara (termasuk fitur lainnya)
·   Harga alat bantu dengar
 
 
 
Cochlear Implant
Pada beberapa orang yang mengalami gangguan pendengaran sensori neural derajat berat dan sangat berat, sel-sel rambut (sensoris) telinga bagian dalam mengalami kerusakan yang parah sehingga menyebabkan penggunaan alat bantu dengar menjadi kurang bermanfaat untuk memahami percakapan ataupun mendengarkan bunyi.
Cochlear implant memberikan stimulus langsung ke syaraf pendengaran, dengan melewati bagian-bagian yang rusak pada telinga bagian dalam. Bersyukur dengan adanya cochlear implant, karena sampai saat ini sudah ribuan orang yang mengalami gangguan pendengaran sensorineural derajat berat dan sangat berat (baik dewasa maupun anak-anak) diseluruh dunia dapat terbantu untuk mendengar dan memahami suara lebih baik.
Saat ini, lebih banyak lagi orang yang bias memperoleh manfaat dari cochlear implant disbanding tahun-tahun sebelumnya. Teknologi yang lebih canggih, pengalaman menggunakan cochlear implant dengan efektif dan aman, menjadikan kriteria kandidat pemakai cochlear implant menjadi lebih luas.
Jika berdasarkan hasil pemeriksaan pendengaran yang komprehensif diketahui bahwa klien mengalami gangguan pendengaran sensorineural derajat berat atau sangat berat, klien tersebut bias menjadi kandidat pemakai cochlear implant.
 
 
 

Panduan Mengenai Alat Bantu Dengar
 
 
 
Introduksi
Apa yang ada dalam benak anda ketika anda mendengar kalimat-kalimat ini :
“ Cool”,” High Tech “, “ Modern”
 
 
 
 
Tentang  Alat Bantu Dengar
Saat ini, alat bantu dengar hadir dalam ukuran yang lebih kecillebih nyaman dan yang paling penting dalah lebih efektif dibanding sebelumnya. Hal itu dapat menjelaskan kenapa tingkat kepuasan orang yang memakai alat bantu dengar baru mencapai 90%. Alat bantu dengar saat ini merupakan computer mikro yang dapat secara otomatis menyesuaikan suara/bunyi untuk dapat didengar dengan nyaman. Dan dengan fitur-fitur canggih, alat bantu dengar saat ini semakin lebih mudah digunakan dan lebih menarik. Bahkan alat bantu dengar kategori basic saat ini satu langkah lebih maju dibanding alat bantu dengar berteknologi canggih saat beberapa tahun lalu.
Tentu saja hal itu merupakan kabar baik, karena lebih dari 90% kasus gangguan pendengaran, alat bantu dengar sangat direkomendasikan. Faktanya, untuk kebanyakan kasus gangguan pendengaran, pemakaian alat bantu dengar merupakan penanganan . Dan riset membuktikan bahwa alat bantu dengar tidak hanya membantu mendengar lebih baik tapi juga dapat meningkatkan kualitas hidup.
 
 
 
 
Dasar-dasar Alat Bantu Dengar
 
 
 
 
Apa itu alat bantu dengar
Alat bantu dengar adalah miniatur alat elektronik yang berfungsi untuk memperkeras dan memproses suara secara selektif. Biasanya dapat diletakkan di dalam dan/atau di belakang telinga.
Semua alat bantu dengar memiliki :
1.       Satu atau lebih mikrofon yang berfungsi untuk menangkap sinyal suara dan merubahnya menjadi sinyal elektrik yang kemudian dikirimkan ke amplifier,
2.       Sebuah amplifier yang berfungsi untuk memperkuat sinyal elektrik dari mikrofon untuk kemudian receiver (speaker)
3.       Sebuah receiver yang berfungsi merubah sinyal elektrik (yang sudah diperkuat) menjadi sinyal suara kembali (yang sudah diperkeras) untuk kemudian disalurkan ke telinga
4.       Baterai sebagai sumber daya
 
 
 
 
Pemrosesan Suara Pada Alat Bantu Dengar
Saat ini sebagian besar alat bantu dengar sudah memakai teknologi digital, artinya sinyal suara yang ditangkap oleh mikrofon dirubah (konversi) menjadi kode-kode digital, yang kemudian diproses menggunakan perhitungan matematis.
Pemrosesan suara secara digital memungkinkan untuk melakukan “teknik memanipulasi sinyal” contohnya : memisahkan sinyal suara percakapan dengan sinyal bising. Sebagian besar alat bantu dengar saat ini memiliki kemampuan (dalam memproses) lebih baik dibanding komputer desktop, tidak seperti alat bantu dengar yang ada di beberapa tahun lalu yang tidak lebih dari sekedar amplifier.
Algoritma yang kompleks dapat memisahkan suara/bunyi ke beberapa frekuensi dan mengamplifikasi  tergantung dari settingan/program yang diberlakukan pada alat bantu dengar yang sesuai dengan kondisi gangguan pendengaran klien. Dengan metode algoritma  juga memungkinkan untuk membedakan jumlah amplifikasi antara suara yang pelan,sedang dan keras. Dengan cara tersebut diharapkan suara yang pelan dapat terdengar, namun suara yang keras tidak terasa menyakitkan telinga (over amplifikasi). Dan pemrosesan digital memastikan replika sinyal asal secara presisi dengan distorsi yang minimal agar menghasilkam kualitas suara yang bagus.

 


Segera hubungi kami untuk mendapatkan Alat Bantu Dengar Berkualitas
Hubungi : Pusat Alat Bantu Dengar Better Hearing Indonesia 
Telepon : 0267-9141133
 jl Arif Rahman Hakim No. 29, Dekat RS DEWI SRI 
Better Hearing Indonesia : Ahlinya Alat Bantu Dengar
Jam Pelayanan 
Minggu&Rabu   :09.00-17.00
Senin-Kamis      :08.00-19.30
Jumat-Sabtu      :08.00-20.30